You are here

Jokowi Batal Full Day School, Padli Batalkan Ujicoba Di SDN 10 dan SMPN 2 Sungailiat

Jokowi Batal Full Day School, Padli Batalkan Ujicoba Di SDN 10 dan SMPN 2 Sungailiat

BANGKA--Presiden Joko Widodo akhirnya membatalkan penguatan pendidikan karakter melalui program full day school yang digagaskan Menteri Pendidikan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Padahal sebelumnya pada tahun pendidikan 2017/2018 ini, Kabupaten Bangka akan menyiapkan sekolah ujicoba program full day school di SDN 10 Sungailiat dan SMPN 2 Sungailiat.

Dengan adanya pembatalan program full school tersebut maka ujicoba program full day school tersebut juga akan dibatalkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka.

"Kita di Sungailiat ini baru ada di SDN 10 dan SMPN 2. Itukan ada syaratnya di perkotaan. Kalau bukan di sekolah perkotaan tidak perlu. Itu juga ujicoba. Salah satu nanti kendalanya makan anak dan guru yang apakah tidak terjadi permasalahan bagi orang yang mampu dan tidak mampu, " ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Padli saat dikonfirmasi bangkapos.com, Selasa (19/6/2017) di Kantor Bupati Bangka.

Menurutnya, jika dibebankan kepada pemerintahan daerah untuk anggaran biaya makan siswa dan guru program full day school ini juga akan menambah beban bagi daerah.

"Kalau anggaran makan anak dan guru Rp 10.000 hingga Rp 18.000 kali jumlah anak dan guru sudah berapa milyar," kata Padli.

Diakuinya, di SDN 10 dan SMPN 2 Sungailiat tersebut baru mau diuji coba program full day school tahun ini tetapi karena ada perintah presiden terhadap menteri pendidikan untuk di tinjau kembali program tersebut maka tidak dilaksanakan.

Apalagi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyarankan agar tidak dilaksanakan karena berefek juga pada program sekolah-sekolah madrasah.

"Kalau di kota-kota besar biasanya orang tua berangkat subuh pulang jam 21.00 WIB malam tidak ketemu anaknya. Kalau di daerah seperti kita ini kan tidak seperti itu orang tua masih punya waktu banyak untuk bertemu dengan anaknya," kata Padli.

Diakuinya seperti di Kabupaten Bangka Tengah sekolah selama lima hari tetapi untuk nilai hasil ujian nasional masih di bawah Kabupaten Bangka.

Namun diakuinya semua tergantung pada banyak faktor tetapi sumber daya manusia yakni guru memiliki peran besar dalam menentukan hasil mutu pendidikan.

Untuk itu pihaknya akan meningkatkan kualitas para guru termasuk juga akan melaksanakan try out pagi para siswa khususnya di kelas enam sekolah dasar dan kelas tiga SMP.

"Kalau gurunya cerdik seperti pengalaman saya memang satu semester pelajaran pertama itu harus selesai, tinggal semester keduanya mengulang. Sebenarnya kalau di kelas VI SD itu pusarannya kelas V sedangkan kelas VI itu tinggal mengulang kembali rumus-rumus yang telah dipelajari. Dengan di SMP yang kelas II semester II pelajaran untuk peningkatan di kelas III nya," jelaskan Padli.

Menurutnya program full day school ini bukan program paksaan. Dikatakannya bahwa program yang diusung oleh menteri pendidikan tersebut karena melihat di negara-negara maju, di Indonesia ini masih negara berkembang sehingga program tersebut kurang cocok untuk di terapkan di daerah-daerah.

"Kalau untuk maju itu memang demikian tetapi belum masanya," kata Padli.

Selain itu dikatakannya, banyak yang perlu dibenahi untuk meningkatkan mutu pendidikan seperti sarana dan prasarana sekolah kualitas para guru adanya sarana bermain untuk anak sarana olahraga dan beribadah.

Disamping itu juga jika diterapkan pendidikan karakter melalui full day scho tersebut maka perlu menambah jumlah guru agama.

Disamping itu juga yang ada di sekolah-sekolah saat ini guru agama masih terbatas itupun kebanyakan dari guru pendidikan agama Islam sedangkan agama-agama lain juga perlu adanya guru pendidikan agama.

"Kita guru agama nya hanya ada satu atau dua orang sementara jumlah siswa ada 400 orang. Sementara ada enam agama ada tidak gurunya nanti," kata Padli.

Diakuinya program full day school ini ada sisi positif dan negatifnya. Sisi baiknya anak berada di lingkungan sekolah sehingga tidak kelayapan kemana-mana.

Sisi negatifnya anak tidak bisa bersosialisasi lagi dengan lingkungan sekitarnya karena waktu mereka banyak berada di dalam lingkungan sekolah.(*)

Penulis: 
Nurhayati
Sumber: 
BANGKAPOS
Kategori Informasi: